Virus Lokal Unggul di Rekayasa Sosial
May 28, 2007 at 12:56 am | In News IT | Leave a Comment
Jakarta, Rahasia ’sukses’ penyebaran virus lokal ternyata bukan pada kepiawaiannya menembus kelemahan sistem, tapi cukup dengan taktik rekayasa sosial yang jitu.
Sebuah contoh nyata ditemui pada metode penyebaran virus yang menginfeksi file JPEG. Seperti disampaikan Alfons Tanujaya, spesialis antivirus dari PT Vaksincom, virus mancanegara biasanya berusaha mengeksploitasi celah keamanan GDI JPEG vulnerability untuk bisa menginfeksi file JPEG.
“Cara ini memiliki kelemahan, yaitu jika celah keamanan ini sudah ditutup maka virus jadi tidak mempan lagi,” kata Alfons dalam keterangan tertulis yang dikutip detikINET, Minggu (27/5/2007).
Tidak demikian dengan virus lokal. Tanpa perlu mencari-cari kelemahan sistem, virus lokal bisa menyebar luas justru karena mengeksploitasi kelemahan manusia, yang suka iseng mengklik dan sering kali penasaran dengan file gambar atau link baru.
Sebagai gambaran, trik yang digunakan oleh pembuat virus lokal untuk mengelabui korbannya untuk menjalankan virus adalah dengan mengubah ikon file virus menjadi ikon yang tidak berbahaya, seperti ikon folder, ikon Microsoft Word atau ikon JPEG.
“Cara tersebut tentunya tidak membuat pengguna komputer ragu untuk mengklik file JPEG karena sampai saat ini belum ditemukan virus yang menyebar melalui file JPEG, kecuali virus yang mengeksploitasi celah keamanan GDI JPEG vulnerability,” kata Alfons.
“Tetapi dengan trik mengubah ikon virus (application) menjadi JPEG tentunya akan sukses mengelabui pengguna komputer, sekalipun komputernya sudah di-patch teratur dan tidak memiliki kelemahan,” paparnya.
Infeksi Otomatis Melalui Flash Disk
Berdasarkan metode penyebaran yang digunakan, virus lokal kini punya kemampuan khusus berupa infeksi otomatis melalui flash disk. Hal ini merupakan buah kreativitas pembuat virus lokal, karena mampu memanfaatkan fitur autorun pada hardware lain (CD/DVD Rom), dan mengimplementasikannya pada virus di Flash Disk.
Pada awal kemunculannya, virus lokal sangat tergantung manusia agar dirinya dapat aktif di komputer target. Pada waktu itu virus tidak akan aktif jika file virus tersebut tidak dijalankan, di samping itu teknik penyebarannya juga masih menggunakan Disket atau Flash Disk (UFD).
Virus masa kini mulai bisa otomatis aktif tanpa harus menunggu dijalankan user. Metode ini sudah mulai dilakukan saat kemunculan virus W32/Aksika(4k51k4).
(nks/a2s)
Minggu , 27/05/2007 12:01 WIB
Ni Ketut Susrini – detikInet
Belajar Design Web
May 26, 2007 at 1:27 pm | In Personal | 4 CommentsSebenernya aku dah lama belajar design tapi gak pernah dipelajari secara mendalam. Karena dapet tugas dari rekan kerja yang kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta di tangerang. Aku coba design menggunakan Corel X3, Photoshop CS2, Image Ready dengan animasi Ulead GIF animator dan Swiss. Alhamdulillah akhirnya designku dipakai juga.
Apa yang aku pelajari aku kembangkan lagi, aku ajarkan kepada rekan kerjaku bagaimana cara mendesaign sebuah web. Walaupun di tempat kuliahnya belum diajarkan secara mendetail, dan dia mampu menangkap materi yang aku berikan hanya dalam waktu kurang lebih 24 Jam (1 hari).
Cuma satu kekuranganku, aku belum menguasai web programmer PHP, MySQL, JavaScript dan lainnya yang berhubungan dengan program web.
Ayo siapa yang mau menularkan ilmu web programmernya kepadaku, dan insya allah nanti aku tularkan kepada yang lain. Ada pepatah mengatakan “Berikanlah ilmu yang kamu pelajari kepada orang lain, sehingga ilmu itu dapat bermanfaat” bener gak yach ungkapan itu?? he…he…..he…..
Pembajakan Software Turun, Kerugian Malah Naik
May 16, 2007 at 1:14 am | In News IT | Leave a CommentJakarta, Meski Indonesia mencatat penurunan peringkat dalam pembajakan piranti lunak di dunia, namun kerugian yang diderita justru makin besar. Ada apa?
Indonesia turun peringkat ke posisi 8 dalam pembajakan piranti lunak di dunia. Berdasarkan studi terbaru yang dikeluarkan Business Software Alliance (BSA) hari ini, Selasa (15/5/2007), tingkat pembajakan software di Indonesia pada akhir 2006 adalah 85%.
Angka itu turun 2 persen dari tahun sebelumnya (akhir 2005) yaitu 87 persen. Dengan demikian, posisi Indonesia turun dari posisi 3 ke posisi 8 dalam tingkat pembajakan piranti lunak global.
Namun, kerugian yang dihasilkan dibandingkan tahun lalu justru lebih besar. Pada 2005 kerugian piranti lunak bajakan di Indonesia mencapai US$ 280 juta, pada tahun ini (akhir 2006) meningkat menjadi US$ 350 juta.
Menurut Jeffrey Hardee, Vice President & Regional Director BSA Asia, hasil yang didapat Indonesia menunjukkan penegakkan hak cipta di tanah air dilakukan secara serius. Demikian ujarnya dalam teleconference dari Hong Kong yang disaksikan wartawan di Indonesia di Kantor BSA, Sampoerna Strategic Tower, Jakarta, Selasa (15/5/2007).
BSA tidak menyebutkan apa yang menyebabkan nilai kerugian akibat pembajakan piranti lunak justru semakin besar meskipun persentasenya turun. Beberapa hal yang diduga ikut menyumbangkan kerugian adalah makin mahalnya harga piranti lunak yang dibajak.
Selain itu, tingginya nilai kerugian itu disebut indikasi pertumbuhan industri piranti lunak di Indonesia. Donny A. Sheyoputra, Perwakilan BSA di Indonesia, mengatakan volume penjualan piranti lunak bajakan di pasaran meningkat. Sehingga, lanjutnya, meski persentasenya turun jumlah yang terjual justru makin banyak.
Menurut Donny piranti lunak yang paling banyak dibajak di tanah air adalah sistem operasi, office application dan antivirus. “Hampir setiap razia yang kita lakukan pasti ada software tersebut,” ujarnya.
Secara global, tiga negara yang tingkat pembajakannya tertinggi ditempati oleh Armenia (95%), Moldova (94%) dan Azerbaijan (94%). Ketiga negara tersebut adalah pendatang baru karena sebelumnya tidak pernah disurvei oleh BSA.
Berikut daftar lengkap 10 negara pembajak terbesar versi BSA:
1. Armenia (95%)
2. Moldova (94%)
3. Azerbaijan (94%)
4. Zimbabwe (91%)
5. Vietnam (88%)
6. Venezuela (86%)
7. Pakistan (86%)
8. Indonesia (85%)
9. Ukraina (84%)
10. Kamerun (84%)
Sedangkan negara dengan tingkat pembajakan terendah versi BSA adalah:
1. Amerika Serikat (21%)
2. Selandia Baru 22%)
3. Jepang (25%)
4. Denmark (25%)
5. Austria (26%)
6. Swiss (26%)
7. Swedia (26%)
8. Finlandia (27%)
9. Inggris (27%)
10. Jerman (28%)
Selasa , 15/05/2007 17:53 WIB
Ardhi Suryadhi – detikInet
Blog at WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.