Printer Membludak, Produksi Buku Braille Seret

Jakarta, Indonesia dianggap memiliki printer braille yang mungkin terbanyak di dunia. Namun, membludaknya printer ternyata tidak diikuti dengan produktifnya jumlah buku bagi penyandang tunanetra ini.

Hal itulah yang diungkapkan Larry Campbell, Direktur Program Internasional Overbrook School for The Blind, yang memotori pembentukan ON-NET untuk mendukung Komunitas e-Braille Indonesia (KEBI).

“Sayangnya untuk sementara ini belum dimanfaatkan secara maksimal dan masih terbatas,” ujar Campbell, kepada wartawan di Hotel Grand Kemang, Jakarta, Selasa (26/6/2007).

Akibatnya, informasi dan pengetahuan bagi penderita tunanetra menjadi sangat terbatas. Padahal, menurut Direktur Eksekutif Yayasan Mitra Netra Bambang Basuki, pemerintah sudah membangun 9 center dan 40 sub center yang tersebar di seluruh Indonesia yang diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam penyediaan buku braille.

“Dari jumlah itu hanya 13 center ataupun sub center yang pernah memproduksi buku, sisanya belum pernah sama sekali,” tutur Bambang.

Keterbatasan sumber daya manusia (SDM) dan biaya ditengarai menjadi faktor utama penyebab masalah ini. Sehingga printer-printer yang ada tidak digunakan sebagaimana mestinya.

Padahal harga perangkat ini terbilang cukup mahal. Untuk printer braille jenis low speed yang dapat mencetak 40 karakter per detik harganya berkisar Rp 50 juta, sedangkan untuk yang high speed dengan kemampuan cetak 400 karakter per detik bisa sampai ratusan juta rupiah setiap satu unitnya.

Di Indonesia sendiri, keberadaan printer braille terbilang cukup membludak. Printer-printer tersebut berasal dari Norwegia dan dihibahkan bagi penyandang tunanetra tanah air.

Sebagai gambaran, Bambang mencontohkan, satu center di Jakarta ada yang memiliki sampai 10 unit printer jenis high speed. “Kalau 8 center lainnya mungkin hanya punya 4 printer, sedangkan sub center paling punya 2 unit,” bebernya.

Namun, itu semua tidak akan berarti jika tidak dioptimalkan dan hanya menjadi sebuah alat tak berguna. “Inilah yang harus kita lihat sebagai sebuah kekuatan dan harus dibangunkan,” tandasnya.

Program Tidak Berjalan

Joko Adi Sasmito, wakil dari Direktorat Pendidikan Sekolah Luar Biasa (PSLB) Depdiknas mengatakan, selama ini pemerintah sebenarnya telah menyertakan trainer di setiap pendistribusian printer di center-center.

Namun sepertinya, lanjut Joko, pihak center yang telah dilatih tidak menjalankan program yang telah diajarkan sehingga printer tersebut bisa jadi hanya menjadi pajangan.

Melihat kenyataan seperti itu, ia berujar pihaknya akan melakukan evaluasi terhadap program yang telah dilakukan. “Ini menjadi sebuah masukan yang sangat penting bagi kami untuk melakukan evaluasi,” tukasnya, kepada detikINET.(ash/ash)

Selasa , 26/06/2007 15:39 WIB
Ardhi Suryadhi – detikInet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s