‘SDM Indonesia Tak Kalah Jago Soal Robotika’

Jakarta – Sumber daya manusia Indonesia di bidang robotika sebenarnya tak kalah hebat dibanding negara lain, semisal Jepang dan Korea Selatan. Namun, mengapa Indonesia tak kunjung jadi negara maju yang berbasiskan industri teknologi?

Wahidin Wahab, ketua juri Kontes Robot Indonesia (KRI) dan Kontes Robot Cerdas Indonesia (KRCI), coba menguraikan kendala yang masih mengganjal ini kepada detikINET, Kamis (22/1/2009).

Simak petikan wawancaranya dengan pria yang sehari-hari bertugas sebagai dosen dan head of Control System Laboratory Fakultas Teknik Universitas Indonesia ini:

Bagaimana potensi mahasiswa Indonesia di bidang robotika, masih mampukah kita bersaing dengan negara-negara lain yang sudah jauh berkembang di industri tersebut?

Sebenarnya, jika dilihat dari kreativitas maupun kemampuan, anak-anak kita tidak kalah dari luar negeri. Kita pernah menjuarai kontes robot internasional dalam ajang ABU (Asian Broadcasting Union) Robocon. Juara pertama pada tahun 2001,
juara kedua di 2007, kemudian juara ketiga pada 2008 lalu.

Bisa dibilang tak kalah jauh dari negara lain karena, nyatanya, Jepang dan Korea Selatan yang teknologi robotnya begitu tinggi, mereka juga tidak selalu juara. Bahkan Vietnam yang lebih terbelakang dari kita, sudah tiga kali juara dunia. Sekarang, negara yang sangat berambisi sekali adalah China. Kita juga berambisi. Namun dengan segala keterbatasan, mudah-mudahan saja kita tetap bisa menandingi.

Keterbatasan seperti apa, misalnya?

Banyak. Pertama, kita tidak punya industri komponen dasar. Kalau mau komponen yang baik kita musti impor dulu. Kedua, keterbatasan waktu. Padahal, mempersiapkan diri dengan waktu yang proporsional adalah kunci dari konsistensi juara. Ini yang disayangkan, masih banyak kampus yang menjadikan kegiatan robot hanya sebagai ekstrakurikuler, bukan intrakurikuler.

Ketiga, bentuk perhatian. Misalnya, dari hal-hal kecil saat bertanding. Setiap pertandingan internasional, negara lain seperti China, bahkan Malaysia, selalu mendapat dukungan penuh. Baik itu dari industri maupun pemerintahnya. Kita selalu membandingkan, beda sekali dengan negara lain yang datang dengan official team 30-40 orang. Sementara dari Indonesia cuma empat orang saja ditambah beberapa dosen yang menemani. Sangat kentara sekali besar perbedaan dukungannya.

Lalu, bagaimana caranya industri dan pemerintah bisa mendukung?

Dengan krisis ekonomi yang melanda, industri yang dulunya mengambil expert dari luar negeri, seharusnya lebih memberi kesempatan memberdayakan orang-orang kita sendiri, mengingat minat akan teknologi untuk pelajar di Indonesia juga sudah
cukup bagus, khususnya di bidang robotika.

Kemudian dukungan lainnya dari pemerintah dan industri bisa dari reward. Penghargaan akan kreativitas harus ditingkatkan. Tak harus selalu berupa uang, namun bisa dari beasiswa maupun fasilitas.

Kalau di Korea, pemerintah mereka berani keluar dana besar-besaran. Mereka punya gedung sendiri khusus untuk pendidikan robotika. Pengelolaannya mendapat dana full dari pemerintah. Mereka tinggal kontak ke sekolah-sekolah untuk
menjadwalkan giliran tiap sekolah yang bisa menggunakan fasilitas tersebut. Dan ini cukup berhasil. Namun dana untuk itu besar sekali. Kalau dibandingkan bisa sama dengan APBN Depdiknas kita untuk satu tahun.

Jika hal tersebut terpenuhi, apa lantas industri robotika di Indonesia bisa langsung bersaing dengan negara lain?

Untuk menumbuhkan industri harus jangka panjang. Namun, dari awal, tujuan utamanya mengembalikan dulu perhatian dan minat ke teknologi. Karena, negara yang tidak punya dukungan teknologi, kecepatan untuk maju pertumbuhannya sangat lambat. Sementara, tujuan utamanya harus itu dulu.

Apakah pertumbuhan minat pelajar untuk bidang robotika masih terpusat di kota besar saja?

Sebenarnya minat akan bidang robotika ini sudah mulai tumbuh pesat, tak hanya di kota besar, namun juga sudah mulai ke daerah. Memang, sosialisasinya harus terus dilakukan secara intensif.

Apa yang biasanya dikeluhkan dan harapannya ke depan?

Selain merisaukan soal ketersediaan komponen, mereka juga kerap bertanya, akan jadi apa saya jika menekuni bidang ini. Padahal, tak perlu risau, karena dengan menekuni bidang robotika yang merupakan industri kreatif, mereka bukan hanya
bisa jadi pekerja saja, tapi sebagai kreator, pencipta. Saya harap, lima sampai sepuluh tahun ke depan, sudah ada yang berhasil menciptakan suatu mesin yang berguna untuk industri robotika.

( rou / ash )

Sumber :
Www.detikinet.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s